logo Kompas.ID

Foto Cerita

Foto Cerita Kearifan Lokal dari Uma Bokulu
Foto Cerita

Kearifan Lokal dari Uma Bokulu

Rato dan Kuda Rato

Natas dan seluruh penghuni kampung adat Waru Wora, Desa Patialabawa, Kecamatan Lamboya, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Rabu (22/3), sibuk menggelar hajatan besar, merenovasi rumah adat yang telah rusak dimakan usia.

Gotong Royong

Seluruh warga kampung secara sukarela bergotong-royong membantu Natas, memperbaiki rumahnya sejak pagi. Bagi warga kampung adat di Sumba, rumah adat atau uma bokulu memiliki arti yang sangat sakral. Oleh karena itu, membangun rumah ataupun merenovasinya harus dilakukan dengan prosesi adat yang dipimpin pemangku adat setempat.

Menikmati Kopi

Rumah tradisional Sumba merupakan rumah panggung yang memiliki keunikan bentuk atap yang menjulang tinggi. Secara umum, setiap rumah memiliki tiga bagian, bawah, tengah, dan atas yang mencerminkan simbol harmonisasi alam. Bagian bawah simbol tempat arwah, bagian tengah simbol kehidupan manusia, dan bagian atas tempat leluhur. Namun, secara fungsional, bagian bawah rumah digunakan warga untuk menyimpan hewan ternak ayam, babi, termasuk kuda. Sementara bagian atap difungsikan untuk menyimpan berbagai persediaan pangan atau parang. Bagian tengah difungsikan sebagai tempat tinggal yang disekat-sekat sebagai tempat tidur dan dapur. Tidak semua bagian ruangan bisa dilewati atau ditinggali oleh perempuan ataupun laki-laki. Untuk keluar masuk rumah pun, laki-laki dan perempuan memiliki pintu sendiri-sendiri, hal itu tidak lain karena secara filosofis mereka memiliki peran dan fungsi masing- masing dalam rumah tangga.

Roboh Belum Diperbaiki

Untuk membangun rumah atau merenovasi rumah tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Bukan saja karena bahan baku membuat rumah yang sangat mahal, melainkan prosesi adat yang harus dilakukan membutuhkan biaya besar. Untuk membangun satu rumah adat membutuhkan biaya mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Anak Kampung Adat

Dapur di Tengah Rumah

Uma bokulu dibangun menggunakan tiga jenis kayu. Kayu mayela, kayu mata api, dan kayu nangka. Beberapa jenis pohon sudah langka ditemukan di Sumba, tak heran harganya menjadi sangat mahal. Untuk lantai, rangka atap dan dinding rumah menggunakan bambu, sementara atap rumah ditutup menggunakan alang-alang. Sementara untuk menjalankan prosesi adat, mereka harus menyediakan puluhan hewan sebagai seserahan ataupun untuk disembelih sebagai hidangan makan bersama.

Teks dan Foto-foto: Kompas/Lucky Pransiska